Minggu, 25 September 2011

BERITA KEJUARAAN BOLA VOLI PUTRA DAN PUTRI SMA/SMK Se-DIY FIK UNY 2011

Kejuaraan Bola Voli Putra dan Putri SMA / SMK se-DIY FIK UNY 2011
          Dalam rangka Hari Olahraga Nasional (Haornas) BEM FIK UNY mengadakan kejuaraan bola voli putra dan putri SMA/SMK se-DIY FIK UNY, 23-24 September 2011. Pertandingan diadakan di lapangan voli dan GOR UNY. Pembukaan dilakukan oleh Bambang Prionoadi, M.Kes, Wakil Dekan 2 FIK, di lapangan Merah Bola Voli FIK.  “Ada 20 peserta yang terdiri dari 11 tim Putra dan 9 tim putri. Ada beberapa atlit juga yang maramaikan event ini. Seperti  Tiara Anggraini Putri siswi SMA N 1 Sewon yang juga merupakan pemain proliga ”ujar Ika dita kusuma (ketua panitia)
Pertandingan Kejuaraan Bola Voli Putra dan Putri SMA / SMK se-DIY FIK UNY 2011 sangat seru karena tim-tim yang bertanding begitu tangguh, dimana mereka menyerang dengan spike yang tajam dan tipuan-tipuan yang pintar yang dapat mengecoh lawan sehingga lawan tidak dapat mengembalikan bola.
Disemifinal voli putri SMA N 1 SEWON  lolos ke final mengalahkan dengan mudah SMK MA’ARIF 1 KALIBAWANG dengan  hasil score 25-14, 25-5. Sedangkan SMA N 1 PUNDONG menang mengalahkan SMA N 4 YOGYAKARTA dengan hasil 25-23, 25-17. Perebutan juara 1 voli putri diperoleh SMA N 1 SEWON mengalahkan SMA N 1 PUNDONG yang akhirnya memperoleh juara 2 di final dengan hasil score 25-11, 25-14. Sedangkan juara 3 diperoleh SMA N 4 YOGYAKARTA mengalahkan SMK Ma’arif 1 Kalibawang dengan score 25-12,25-14.

Disemifinal voli putra SMA N 1 PUNDONG  lolos ke final mengalahkan SMA N 4 YOGYAKARTA dengan hasil score 25-17, 25-23. Sedangkan SMK PEMBANGUNAN GUNUNG KIDUL mengalahkan SMK MUH. 1 BANTUL dengan hasil score 25-18, 14-25, 17-19. Perebutan juara 1 voli putra yang begitu sengit diperoleh SMK PEMBANGUNAN GUNUNG KIDUL mengalahkan SMK MUH. 1 Bantul yang akhirnya memperoleh juara 2 di final dengan hasil score 22-25, 25-8,15-13. Sedangkan juara 3 diperoleh SMK MUH. 1 BANTUL mengalahkan SMA N 4  YOGYAKARTA dengan score 25-14,25-21.

Final kejuaraan dilaksanakan pada hari minggu 25 September 2011 di GOR UNY. Perolehan juara voli putra juara 1 SMK PEMBANGUNAN, juara 2 SMA N 1 PUNDONG, juara 3 SMK MUH. 1 BANTUL. Untuk perolehan juara voli putri juara 1 SMA N 1 SEWON, juara 2 SMA N 1 PUNDONG, dan juara 3 SMA 4 YOGYAKARTA.
Kejuaraan Bola Voli Putra dan Putri SMA / SMK se-DIY FIK UNY 2011 sukses dan berjalan lancar dengan sportifitas para peserta. Semoga setiap tahun kita dapat menyelenggarakan kembali pertandingan bola voli ini ujar zam-zam ketua BEM FIK UNY.

Jumat, 15 Juli 2011

MULTISTAGE

Multistage Fitness Test (MFT) 


 MFT | Multistage Fitness Test  - Tes MFT adalah salah satu cara untuk mengetahui tingkat kebugaran jasmani seseorang. Biasanya tes MFT ini dilakukan pada olahraga bola basket, yang ditujukan untuk mengetahui kebugaran jasmani atlet serta wasitnya. Tes MFT ini lebih mudah dilakukan dari pada TKJI. Tes MFT dapat dilakukan terhadap beberapa orang sekaligus asalkan pengetes dapat mencatat dengan tepat dan cermat setiap tahapan tes dan dapat menghentikannya dengan tepat sesuai ketentuan tes MFT. Berikut dijelaskan tentang beberapa tindakan pencegahan, perlengkapan tes, persiapan pelaksanaan tes, persiapan peserta sebelum dan sesudah tes dan pelaksanaan. 

A. Beberapa Tindakan Pencegahan
1. Peserta harus dalam kondisi sehat.
2. Pengetes perlu menggugah motivasi dan perhatian peserta tes, agar mereka melakukan tes dengan sungguh-sungguh.

B. Perlengkapan Tes
1. Lintasan tes dapat berupa halaman, lapangan olahraga atau tanah datar yang tidak licin sepanjang 20 meter.

 contoh Lintasan Multistage Fitness Test (MFT)



2. Pengeras suara dan tape recorder.
3. Kaset atau CD berisi panduan tes MFT.
4. Tanda batas jarak.

C. Persiapan Pelaksanaan Tes
1. Ukur panjang lintasan lari adalah 20 meter dan beri tanda di kedua ujungnya.
2. Pastikan kaset atau CD yang berisi panduan tes MFT telah diseting dengan benar.

D. Persiapan Peserta Sebelum dan Sesudah Tes
1. Sebelum melakukan tes jangan makan selama dua jam sebelum mengikuti tes, pakai pakaian olahraga dan sepatu olahraga yang tidak licin.
2. Melakukan peregangan terutama untuk otot-otot tungkai sebelum melaksanakan tes. Disarankan juga untuk melakukan pemanasan secara umum sehingga secara fisik dan mental siap melakukan tes.
3. Setelah melakukan tes lakukan pendinginan dengan melakukan peregangan.

E. Pelaksanaan Tes
1. Hidupkan tape recorder yang berisi kaset atau CD panduan tes MFT mulai dari awal lalu ikuti petunjuknya.
2. Pada bagian permulaan, jarak dua sinyal tut menandai suatu interval satu menit yang terukur secara akurat.
3. Selanjutnya terdengan penjelasan ringkas mengenai pelaksanaan tes yang mengantarkan pada perhitungan mundur selama lima detik menjelang dimulainya tes.
4. Setelah itu akan keluar sinyal tut pada beberapa interval yang teratur.
5. Peserta tes diharapkan berusaha agar dapat sampai ke ujung yang berlawanan bertepatan dengan sinyal tut yang pertama berbunyi, untuk kemudian berbalik dan berlari ke arah yang berlawanan.
6. Setiap kali sinyal tut berbunyi peserta tes harus sudah sampai di salah satu ujung lintasan lari yang di tempuhnya.
7. Selanjutnya interval satu menit akan berkurang sehingga untuk menyelesaikan level selanjutnya peserta tes harus berlari lebih cepat.
8. Setiap kali peserta tes menyelesaikan jarak 20 meter, posisi salah satu kaki harus tepat menginjak atau melewati batas 20 meter, selanjutnya berbalik dan menunggu sinyal berikutnya untuk melanjutkan lari ke arah berlawanan.
9. Setiap peserta tes harus berusaha bertahan selama mungkin, sesuai dengan kecepatan yang telah diatur. Jika peserta tes tidak mampu berlari mengikuti kecepatan tersebut maka peserta harus berhenti atau dihentikan dengan ketentuan :
- Jika peserta tes gagal mencapai dua langkah atau lebih dari garis batas 20 meter setelah sinyal tut berbunyi, pengetes memberi toleransi 1 x 20 meter, untuk memberi kesempatan peserta tes menyesuaikan kecepatannya.
- Jika pada masa toleransi itu peserta tes gagal menyesuaikan kecepatannya, maka dia dihentikan dari kegiatan tes.

 Music Multistage








Senin, 16 Mei 2011

TUGAS LANDASAN PSIKOLOGI GURU PENJAS


Pada dasarnya belajar gerak (motor learning) merupakan suatu proses belajar yang memiliki tujuan untuk mengembangkan berbagai keterampilan gerak yang optimal secara efisien dan efektif. Seiring dengan itu, Schmidt (1989: 34) menegaskan bahwa belajar gerak merupakan suatu rangkaian asosiasi latihan atau pengalaman yang dapat mengubah kemampuan gerak ke arah kinerja keterampilan gerak tertentu.

Sehubungan dengan hal tersebut, perubahan keterampilan gerak dalam belajar gerak merupakan indikasi terjadinya proses belajar gerak yang dilakukan oleh seseorang. Dengan demikian, keterampilan gerak yang diperoleh bukan hanya dipengaruhi oleh faktor kematangan gerak melainkan juga oleh faktor proses belajar gerak.

Di sisi lain, pengaruh dari belajar gerak tampak pada perbedaan yang nyata dari tingkat keterampilan gerak seorang anak yang mendapatkan perlakukan pembelajaran gerak intensif dengan yang tidak. Pada kelompok anak yang mendapatkan perlakuan belajar gerak intensif menunjukan kurva kenaikan progresif dan permanen. Sementara itu, dalam pemerolehan keterampilan gerak dipengaruhi oleh beberapa faktor; (1) faktor individu subyek didik, (2) faktor proses belajar dan (3) faktor situasi belajar. Faktor individu subyek belajar dalam belajar gerak akan merujuk pada adanya perbedaan potensi yang dimiliki subyek didik. Perbedaan potensi kemampuan gerak yang dimiliki oleh subyek didik ini secara fundamental akan memberikan pengaruh terhadap pemerolehan keterampilan gerak. Perbedaan potensi kemampuan gerak memiliki implikasi terhadap usaha penyusunan program pembelajaran gerak Oxendine (1984:56) menegaskan bahwa perbedaan potensi kemampuan gerak yang dimiliki oleh seorang secara nyata akan memberikan pengaruh terhadap kecepatan, ketepatan dan tingkat perolehan keterampilan gerak. Sementara itu, dalam proses pemerolehan keterampilan gerak, seseorang harus melalui beberapa tahapan, yaitu ; (1) tahap formasi rencana, (2) tahap latihan dan (3) tahap otomatisasi.(Rahantoknam, 1989:78)


Tahapan Belajar Gerak

1. Tahap Formasi Rencana

Tahap formasi rencana merupakan tahap di mana seseorang sedang menerima rangsangan pada alat-alat reseptor. nya sebagai masukan bagi sistem memorinya. Pada tahap ini, seorang yang sedang belajar gerak akan mengalami beberapa tahapan proses belajar, sebagai berikut; (1) tahap menerima dan memproses masukan, (2) proses kontrol dan keputusan dan (3) unjuk kerja keterampilan.

Pada fase formasi rencana yang yang diawali dengan tahap masukan, pada dasarnya seorang yang belajar gerak berada pada tahap menerima informasi tentang bentuk dan pola keterampilan gerak yang kelak harus dilakukannya. Masukan informasi pada subyek didik dapat dilakukan melalui alat-alat reseptornya, seperti penglihatan, sentuhan, pendengaran dan penciuman. Namun demikian dalam belajar gerak penglihatan dan pendengaran merupakan reseptor yang dominan dalam menerima informasi belajar gerak.

Tahap kedua adalah proses pengolahan informasi. Tahap ini merupakan tahap analisis infomasi yang masuk. Sebelum respons kinetik diberikan terhadap suatu stimuli, informasi akan dianalisis melalui; (1) identifikasi stimulus, (2) seleksi respons dan (3) pemograman respons.

Identifikasi stimulus merupakan awal dari rangkaian pengenalan stimulus yang diterima seseorang dengan memberikan analisis terhadap ling- kungan dari suatu variasi sumber informasi, bentuk informasi, sentuhan, penglihatan (besar kecil, warna, cepat lambat), pendengaran (keras halus, lambat cepat). Hasil identifikasi stimulus ini akan menjadi bentuk yang representatif bagi seleksi respons yang harus diberikan terhadap suatu bentuk stimuli.

Pada tahap seleksi respons akan dilakukan seleksi terhadap berbagai kemungkinan respons yang harus diberikan terhadap suatu stimuli. Seleksi respons akan disesuaikan dengan keadaan lingkungan. Berbagai kemungkinan bentuk gerak akan diprogramkan untuk memberikan respons. Dalam pe-mograman respons dilakukan pengorganisasian tugas dari sistem motorik sebagai dasar respons kinetik. Sebelum respons kinetik sebagai jawaban dimunculkan, maka program dari respons akan mempertim bangkan bentuk stimulus yang telah diidentifikasi pada tahap sebelumnya. Bila tahapan rangkaian proses pengolahan informasi telah dilakukan, maka pola rencana gerak telah terbentuk dalam sistem memori seseorang. Pola rencana gerak yang berinteraksi dengan lingkungan stimulus pada akhirnya akan menjadi respons kinetik seperti yang diunjukkerjakan oleh seseorang.

Respons kinetik sebagai keluaran dari suatu proses sistem akan ber-hubungan dengan kecepatan memberikan reaksi dan pengambilan keputusan. Untuk memberikan respons kinetik dengan cepat dan tepat, menurut Abdoellah (1987:45) berkaitan dengan potensi kemampuan gerak yang dimiliki oleh seseorang. Dari model yang sederhana di atas oleh para ahli belajar gerak dikembangkan beberapa teori belajar gerak.

Dalam hal ini Singer (1993:98) mengembangkan teori model belajar gerak yang diawali dengan proses pengolahan informasi. Dari teori tersebut tampak bahwa Singer mengembangkan model belajar gerak yang mengkombinasikan proses pengo-lahan informasi, adaptasi dengan sibernetika.

Teori proses pengolahan infromasi dalam model ini berkaitan dengan tahap saat seseorang menerima masukan dan memproses informasi menjadi rencana gerak dalam memorinya. Kemudian, proses adaptasi tampak pada mekanisme dari perencanaan gerak menjadi suatu unjukkerja keterampilan gerak seseorang. Sedangkan teori sibernatika tampak dari proses mekanisme otoregulasi umpanbalik yang harus dan dapat dimunculkan secara intrisik.

Sebagai suatu masukan dalam sistem mekanisasi organisme masuknya informasi merupakan tahap penerimaan stimulus yang segera diubah dan disesuaikan dengan situasi stumulus melalui tahapan yang sistematik. Hal tersebut berhubungan dengan mekanisme sistem saraf dan hormon. Dalam hal ini, reseptor merupakan fungsi utama untuk menerima informasi dan melalui sistem saraf segera diubah menjadi tanda masukan bagi sistem memori. Masukan informasi akan mengalami proses interaksi dan adaptasi dengan berbagai faktor individual. Sehubungan dengan ini, kemampuan individu dalam mengadopsi dan memproses suatu informasi akan berbeda antara yang satu dengan lainnya. Pada sisi lain, faktor situasi eksternal seperti tempat, cahaya, jarak tingkat kesukaran saat informasi diterima reseptor merupakan salah satu faktor dominan yang mempengaruhi seorang dalam menerima dan mengubah informasi tersebut. Pada sisi lain, fungsi penyimpanan memori memiliki dua fungsi yaitu; sebagai (1) penerima dari masukan stimuli yang kemudian akan dikenali dan diringkas, dan (2) transmisi yang mendekatkan informasi ke mekanisme persepsi untuk dikenali atau ditempatkan pada penyimpanan jangka panjang untuk dihubungkan dengan memori. Untuk pemerolehan keterampilan gerak, faktor pengenalan dan proprioseptik dari informasi angat penting.

Makin sederhana dan jelasnya informasi yang masuk akan makin cepat diterima dan simpan dalam sistem memori. Kesederhanaan dan kejelasan informasi dalam belajar gerak berkaitan dengan bentuk-bentuk gerak yang menjadi bahan belajar.

Pada sisi lain, hubungan antara reseptor (situasi informasi) dengan efektor bukan hanya terjadi karena proses pengolahan informasi dan habitual melainkan proses tersebut akan terjadi secara otoregulator atau sibernetika. Mekanisme sibernetik antara efektor dan reseptor merupakan konpensasi dari proses habitual belajar gerak dan situasi stimulis.

Sehubungan dengan hal di atas, maka faktor situasi belajar merupakan salah satu faktor yang akan memberikan pengaruh dalam proses pembelajaran gerak. Dalam belajar gerak, situasi belajar berhubungan dengan analisis kemampuan individu subyek belajar dan profil tugas yang kelak dilakukanya. Profil tugas belajar gerak mengacu pada tujuan belajar yang hendak dicapai dalam suatu proses kegiatan belajar.

Dengan memahami potensi indvidu dan tujuan yang hendak dicapai maka dapat diciptakan situasi belajar yang kondusif. Rancang bangun yang efektif dari situasi belajar akan memberikan kontribusi yang nyata terhadap rangkaian proses pemerolehan keterampilan gerak. Pada tahap manapun dari rangkaian belajar gerak senantiasa dibutuhkan situasi belajar yang kondusif. Sementara itu, orientasi dari belajar gerak tidak hanya sekedar pada usaha pengembangan berbagai keterampilan gerak melainkan melalui belajar gerak akan dikembangkan pula komponen lain dari subyek didik. Kartono (1989: 67) menegaskan bahwa pemberian pengalaman gerak yang luas kepada anak merupakan tindakan yang bijaksana dalam usaha mempengaruhi perkembangan anak. Melalui gerak, pada dasarnya anak sedang mengadakan interaksi dan komunikasi dengan dunia luarnya dalam usaha melengkapi pengatahuan dan sikapnya. Pengaruh dari proses belajar terhadap ranah kognitif dan afektif bukanlah pengaruh tidak langsung melainkan pengaruh langsung seperti halnya terhadap perkembangan gerak.

Dalam pembentukan sikap subyek didik, Ateng (1994:35) menegaskan tidak ada media pendidikan serealitas pendidikan gerak untuk menanamkan sikap sportif, seperti menghargai orang lain, bekerja sama, berjuang keras dan sebagainya.

Sehubungan dengan hal tersebut, perlu ditegaskan bahwa belajar gerak memiliki beberapa intensi yang meliputi perkembangan; (1) ranah psikomotor, (2) ranah kognitif dan (3) ranah afektif. Pada ranah psimotor intensi belajar gerak memuat dua tujuan utama; (1) kemampuan bergerak, (2) kemampuan fisik. Kemampuan bergerak memuat masing-masing; (1) kemampuan gerak lokomotor, (2) kemampuan gerak manipulasi dan (3) kemampuan gerak stabilisasi. Sedangkan kemampuan fisik memuat masing-masing; (1) kesegeran jasmani dan (2) kesegaran gerak.

Hal-hal di atas secara multilateral dapat dikembangkan melalui program pembelajaran gerak yang efektif. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa dalam situasi pembelajaran gerak tidak hanya dikembangkan keterampilan gerak melainkan dengan segera dapat dikembangkan pula faktor-faktor lain yang menjadi komponen dalam perkembangan totalitas anak.

2. Tahap Latihan

Tahap kedua dari belajar gerak adalah tahap latihan. Pada tahap ini di mana pola gerak yang telah terbentuk dalam sistem memori sedang diunjuk kerjakan. Unjuk kerja keterampilan pada awalnya dilakukan dengan tingkat koordinasi yang rendah.

Rahantoknam (1989) menegaskan bahwa pada tahap ini dua hal yang perlu mendapatkan perhatian, yakni frekuensi pengulangan, intensitas, dan tempo. Frekuensi pengulangan pada dasarnya merujuk pada berapa kali seorang melakukan pengulangan gerakan, baik yang dilakukan dalam satuan berkali belajar maupun yang berhubungan dengan jumlah pengulangan yang dilakukan dalam satu minggu.

Efektivitas frekuensi pengulangan memiliki karakter yang individualistik. Sehubungan dengan adanya perbedaan kemampuan individu maka kebutuhan frekuensi pengulanganpun akan berbeda-beda. Oleh karenanya tinggi-rendahnya frekuensi pengulangan yang dilakukan oleh individu sangat tergantung pada kemampuan individu.

Sehubungan dengan hal tersebut, Hebert, Landin dan Solmon (2001) menemukan hubungan antara frekuensi pengulangan dengan kemampuan individu. Makin baik kemampuan individu makin rendah frekuensi pengulangan yang dibutuhkannya. Namun demikian, frekuensi belajar tidak selamanya memiliki hubungan yang linear dengan kemampuan individu terhadap perolehan keterampilan gerak seseorang. Setiap individu memiliki keterbatasan kecenderungan dan kemampuan untuk beradaptasi dengan frekuensi belajar. Ada individu yang memiliki kemampuan untuk beradaptasi dengan frekuensi belajar tinggi. Ia dapat mengatasi berbagai kendala fisik dan dan psikis yang menekannya.

Frekuensi pengulangan di samping memperkuat hubungan antara reseptor dan efektor, juga dapat memperbaiki kualitas pola gerak yang terbentuk dalam sistem memori. Oleh karenanya melalui frekuensi pengulangan yang efektif pola gerak makin permanen terbentuk dalam sistem memori seseorang. Sehubungan dengan hal tersebut, perlu ditegaskan bahwa suatu pola gerak yang telah tersimpan dengan permanen dalam sistem memori seseorang mempermudah bagianya untuk memanggil kembali bila ia menginginkannya.

Variasi bentuk latihan yang memperyimbangkan beragam situasi dan kondisi secara langsung dapat memperkaya seseorang dalam memberikan respons kinetik yang dikonvensikan dengan situasi dan kondisi. Salah satu indikasi permenannya pola gerak yang terbentuk dalam sistem memori adalah dengan makin baiknya tinkat koordinasi gerak yang dapat dilakukan oleh seseorang. Bila keterampilan gerak terus dilakukan dengan pengulangan dan umpan yang efektif dapat mempercepat proses otomatisasi gerak.

Frekuensi pengulangan yang efektif dapat mengurangi tingkat gangguan dalam pembentukan pola gerak secara permanen. Seperti diketahui dalam kehidupan sehari-hari, seseorang akan menerima berbagai informasi. Informasi belajar merupakan salah satu dari berbagai informasi yang diterima oleh seseorang. Informasi-informasi tersebut sangat penting untuk membentuk pengalaman-pengalaman dalam kehidupan seseorang, baik yang berhubungan dengan pengalaman verbal maupun pengalaman gerak.

Dalam proses penguatan pola gerak dalam sistem memori antara satu informasi dengan lainnya saling berinteraksi, bahkan tidak menutup kemungkinan akan saling bertindih. Sehubungan dengan hal tersebut, agar pola gerak dapat terbentuk dengan permanen dalam sistem memori, di samping faktor kelejasan, kederhanaan, kuat dan harmonisnya informasi juga faktor keefektifan pengulangan dan umpan balik merupakan faktor yang tidak dapat diabaikan.

Sehubungan dengan hal di atas, frekuensi pengulangan yang dilakukan oleh seseorang dapat berhubungan dengan dua hal utama; pertama adalah frekuensi pengulangan berhubungan dengan jumlah pertemuan yang dilakukan oleh seseorang dalam satuan waktu tertentu. Berapa jumlah frekuensi yang dibutuhkan oleh seseorang agar ia dapat menguasai suatu keterampilan gerak tertentu? Berapa lama jeda waktu di antara frekusensi tersebut? Tentu saja relatif. Tiap individu memiliki kebutuhan waktu yang berbeda-beda sesuai dengan kemampuannya.

Di samping hal itu, kemampuan fisik sangat mendukung untuk memperoleh keterampilan gerak, khususnya kemampuan fisik yang secara langsung berhubungan dengan proses pengulangan gerakkan yang dilakukan oleh seseorang dalam waktu yang relatif lama. Untuk dapat menampilkan suatu keterampilan yang berulang-ulang dengan kualitas kinerja relatif sama dibutuhkan kemampuan fisik, seperti daya tahan jantung dan otot.

Kemampuan fisik secara langsung menjadi landasan bagi pengulangan gerakkan yang dilakukan oleh seseorang. Dengan kemampuan fisik yang baik, pengulangan dapat dilakukan dengan baik. Pengulangan-pengulangan gerakkan yang dilakukan efektif dapat memperbaiki koordinasi gerak.

Kedua, adalah bahwa frekuensi pengulangan berhubungan dengan jumlah perlakuan yang dapat dilakukan dalam satuan minggu. Dengan demikian, dalam hal ini frekuensi pengulangan berhubungan dengan dalam satu minggu berapa kali seseorang harus mengulang gerakkan yang dipelajari. Sehubungan dengan hal tersebut, paling sedikit harus dilakukan dua kali perminggu. Itupun untuk mendapatkan pola gerak yang sederhana. Untuk menguasai pola gerak yang kompleks dibutuhkan waktu pengulangan yang lebih banyak lagi.

Dalam usaha memperoleh suatu keterampilan gerak, perhatian terhadap waktu istirahat sama pentingnya dengan waktu perlakuan. Perhatian terhadap waktu istirahat diantara waktu perlakuan berhubungan beberapa gangguan yang mungkin muncul dan dapat mengganggu memori yang belum permanen. Gangguan yang terjadi di antara dua informasi yang disajikan tidak jarang dapat menggeser pengalaman yang belum permanen dalam sistem memori. Bila ini terjadi maka unjuk kerja keterampilam yang dimunculkan dengan koordinasi yang rendah.

Bila pengulangan dilakukan dengan intensitas rendah atau dengan dengan interval waktu yang relatif lama, yang terjadi dalam sistem memori bukan hanya penggeseran informasi sajal mekainkan terjadi pula pelapukan informasi. Lapuknya informasi dalam memori dapat menyebabkan informasi tersebut terhapus dan bahkan menjadi hilang. Bila hal ini terjadi, maka seseorang akan sulit bahkan tidak dapat mengingat apa-apa yang pernah dipelajarinya.

Secara fisiologis, kurangnya intensitas dalam frekuensi pengulangan dapat menjadi sebab kurang permanennya hubungan antara dendrit dan axon pada sistem saraf. Permanen hubungan antara keduanya merupakan mata rantai dari hubungan reseptor-efektor. Bila hubungan antara reseptor dengan efektor terjadi dengan efektif maka segera dapat diidikasikan bahwa unjuk kerja keterampilan dilakukan dengan efektif. Dengan pengulangan yang efektif, lambat laun gerakkan dapat dilakukan dengan otomatisasi.

Pada sisi lain, secara fisiologis anak memiliki kemampuan yang terbatas dalam beradaptasi dengan intensitas kerja fisik tertentu. Anak membutuhkan waktu istirahat di antara dua atau lebih perlakuan kerja fisik. Waktu istirahat dibutuhkan anak untuk dapat mengembalikan kemampuannya. Aktivitas fisik dengan intensitas tinggi dan rendah memiliki implikasi yang berbeda terhadap kemampuan anak untuk melakukan aktivitas dan waktu istirahat.

Intensitas kerja fisik tinggi mendorong anak untuk melakukan aktivitas fisik dalam waktu yang relatif singkat. Bila intensitas diturunkan menjadi sedang dan rendah maka ia dapat melakukan aktivitas fisik yang relatif lebih lama daripada intensitas tinggi. Demikian pula dengan waktu istirahat. Intensitas tinggi, sedang dan rendah membutuhkan waktu istirahat yang relatif berbeda.


3. Tahap Otomatisasi

Tahap ini meruapakan tahap akhir dari rangkaian proses belajar. Gerakkan otomatisasi merupakan hasil dari latihan yang dilakukan dengan efektif. Gerakkan otomatisasi dapat terjadi karena terjadinya hubungan yang permanen antara reseptor dengan efektor. Gerakkan otomatiasi dalam mekanismennya tidak lagi dikoordinasikan oleh sistem syaraf pusat melainkan pada jalur singkat pada sistem saraf otonom.

Saran

Bila kita cermati uraian di atas, maka tampak bahwa sesungguhnya belajar gerak memiliki instensi dan koneksi yang kuat dengan teori belajar, fisiologi dan psikologi. Sebagai bagian dari teori belajar, tahapan belajar juga merupakan bagian dari teori komunikasi.

Sehubungan dengan hal tersebut, untuk lebih memahami teori belajar gerak secara komprehensif, tampaknya perlu dilakukan analisis komprehensif terhadap beberapa teori psikologi, komunikasi dan fisiologi yang memiliki koneksi langsung dengan teori belajar gerak. dengan seksama. Dengan demikian, teori belajar gerak dapat dipahami dan diimplementasikan sebagai bagian integral dari pengembangan kompetensi professional guru.

SUMBER :
Rahantoknam, B. E. Perkembangan Motorik dan Belajar Gerak Pada Anak-anak Sekolah Dasar. Jakarta: Yayas-an Pengembangan Olahraga Indonesia, 1990

Schmidt, Richard, A. Motor Control and Learning: A Behavioral Emphasis. Champaign: Human Kinetic Publishers, Inc, 1988

ANALISIS GERAK MELEMPAR BOLA SOFTBALL/BASEBALL

LEMPAR BOLA SOFTBALL SEJAUH-JAUHNYA

1) Urutan geraknya:

Sikap Awalan

· Posisi siap, kaki kaki kiri didepan kaki kanan.

· Bola diletakkan pada ujung pangkal jari-jari tangan kanan, (pegangan bola dengan tiga jari tengah, ibu jari dan kelingking sebagai penahan). Kemudian angkat lengan kanan ke atas samping kanan sampai batas maksimal kelenturan sendi bahu. Pada posisi ini lengan kiri posisinya masih tetap disamping kiri tubuh dan tidak melakukan gerakan apapun

Pelaksanaan

· Gerakan atau ayunkan kaki kanan kedepan sampai posisi kedua kaki menyilang. Pada saat mengayunkan kaki kanan ini sendi lutut dari kaki kanan agak ditekuk sedikit, bersamaan gerak ayunan ini gerakkan lengan kiri bagian bawah ke atas sampai didepan dada dengan sendi siku ditekuk, kemudian gerakkan atau putarkan dada dan bahu kebelakang sehingga posisi badan agak condong kebelakang, gerakan memutar dada kebelakang ini tidak dilakukan secara maksimal kebelakang. Gerakan ini disebut langkah satu atau step 1 (satu).

· Langkah kedua (step 2) gerakan atau ayunkan kaki kiri kesamping kiri kaki kanan, dengan melewati bagian belakang kaki kanan. Bersamaan dengan ayunan kaki ini putarkan dada dan bahu ke belakang bawah secara maksimal dan sendi lutut kaki kanan ditekuk sedikit sehingga tumit kaki kiri agak terangkat, dengan posisi tangan kiri tetap berada di depan dada. Gerakan ini menyebabkan otot perut bagian samping teregang, otot pectoralis mayor teregang, dan juga otot pada tungkai kiri teregang.

Sikap Akhir
· Langkah ketiga (step 3). Gerakan atau ayunkan kaki kanan ke depan samping kiri kaki kiri dengan melewati bagian depan kaki kiri, sehingga posisi kedua kaki menyerong kekanan,kemudian gerakan panggul ke depan, pinggang kedepan, dada kedepan, bahu kedepan, kemudian gerakan selanjutnya adalah gerakan lengan atas ke depan dan lengan bawah kedepan atas disusul gerakan sendi pergelangan tangan sehingga bola meluncur di jari-jari tangan, kemudian setelah sampai pada ujung jari tangan, lecutkan jari-jari tangan pada posisi lengan lurus di depan atas kepala dan kemudian bola lepas dari tangan dengan sudut 450.



2) Segmen dan sendi yang terlibat

Segmen yg terlibat adalah segmen telapak kaki, segmen tungkai bawah, segmen tunkai atas, segmen tubuh atas, segmen lengan atas, segmen lengan bawah, dan telapak tangan.

Sendi yang terlibat adalah sendi pergelangan kaki, sendi lutut, sendi panggul, sendi bahu, sendi siku, dan sendi pergelangan tangan.


3) Otot yang terlibat

Otot yang terlibat adalah otot gastrocnemeus, hamstring, quadrisep, otot perut bagian samping (obligue eksternal), pectoralis mayor, trapezeus, deltoid, bisep, trisep, otot-otot lengan bawah (flexor dan extensor, dan otot-otot telapak tangan).

PERBEDAAN INDIVIDUAL (INDIVIDUAL DIFFERENCES)

Definisi dan Pemahaman

Topik tentang individual differences ini mengkaji mengenai karakteristik manusia sebagai individu yang utuh tidak dapat dibagi(undivided), tidak dapat dipisahkan yang memiliki ciri-ciri yang khas. Karena adanya ciri-ciri yang khas itulah yang menyebabkan manusia satu dengan yang lainya dikatakan individu yang berbeda.
Manusia adalah mahluk yang dapat dipandang dari berbagai sudut pandang . sejak ratusan tahun sebelum Isa, manusia telah menjadi obyek filsafat, baik obyek formal yang mempersoalkan hakikat manusia maupun obyek material yang mempersoalkan manusia sebagai apa adanya manusia dengan berbagai kondisinya. Sebagaimana dikenal adanya manusia sebagai mahluk yang berpikir atau homo sapiens, mahluk yang berbuat atau homo faber, mahluk yang dapat dididik atau homo educandum dan seterusnya. Dalam kamus Echols & Shadaly (1975), individu adalah kata benda dari individual yang berarti orang, perseorangan, dan oknum. Berdasarkan pengertian di atas dapat dibentuk suatu lingkungan untuk anak yang dapat merangsang perkembangan potensi-potensi yang dimilikinya dan akan membawa perubahan-perubahan apa saja yang diinginkan dalam kebiasaan dan sikap-sikapnya. Dalam pertumbuhan dan perkembangannya, manusia mempunyai kebutuhan-kebutuhan. Pada awal kehidupannya bagi seorang bayi mementingkan kebutuhan jasmaninya, ia belum peduli dengan apa saja yang terjadi diluar dirinya. Ia sudah senang bila kebutuhan fisiknya sudah terpenuhi. Dalam perkembangan selanjutnya maka ia akan mulai mengenal lingkungannya, membutuhkan alat komunikasi (bahasa), membutuhkan teman, keamanan dan seterusnya. Semakin besar anak tersebut semakin banyak kebutuhan non fisik atau psikologis yang dibutuhkannya.
Topik tentang individual differences ini mengkaji mengenai karakteristik manusia sebagai individu yang utuh tidak dapat dibagi(undivided), tidak dapat dipisahkan yang memiliki ciri-ciri yang khas. Karena adanya ciri-ciri yang khas itulah yang menyebabkan manusia satu dengan yang lainya dikatakan individu yang berbeda.
Setiap individu memiliki ciri dan sifat atau karakteristik bawaan(heredity) dan karakteristik yang diperoleh dari pengaruh lingkungan. Karakteristik bawaan merupakan karakter keturunan yang dimiliki sejak lahir, baik yang menyangkut faktor biologis maupun faktor sosial psikologis. Karakteristik yang berkaitan dengan perkembangan biologis cenderung lebih bersifat tetap, sedang karakteristik yang berkaitan dengan sosial psikologis lebih banyak dipengaruhi oleh faktor lingkungan.
Seorang bayi yang baru lahir merupakan hasil dari dua garis keluarga, yaitu keluarga ayah dan garis keluarga ibu. Sejak saat terjadinya pembuahan atau konsepsi kehidupan yang baru itu secara berkesinambungan dipengaruhi oleh banyak dan bermacam-macam faktor lingkungan yang merangsang. Tiap-tiap perangsang tersebut baik secara terpisah maupun terpadu dengan rangsangan yang lain semuanya membantu perkembangan potensi-potensi biologis demi terbentuknya tingkah laku manusia yang dibawa sejak lahir. Hal itu akhirnya membentuk pola karakteristik tingkah laku yang dapat diwujudkan seseorang sebagai individu yang berkarakteristik berbeda dengan individu-individu lain.
Individu menunjukan kedudukan seseorang sebagai orang perorangan atau perseorangan. Sifat individual adalah sifat yang berkaitan dengan orang perorangan. Ciri dan sifat orang yang satu berbeda dengan yang lainya. Perbedaan inilah yang disebut perbedaan individual (individual differences). Pendapat dari Lindgren (1980 : 578) dikutip oleh Prof. H Sunarto : perbedaan dalam “perbedaan individual” menyangkut variasi yang terjadi, baik variasi pada aspek fisik maupun psikologis.
Dalam aspek perkembangan individu, dikenal ada dua fakta yang menonjol, yaitu (i) semua diri manusia mempunyai unsur-unsur kesamaan didalam pola perkembangannya, dan (ii) di dalam pola yang bersifat umum dari apa yang membentuk warisan manusia – secara biologis dan social, tiap individu mempunyai kecenderungan berbeda. Perbedaan-perbedaan tersebut secara keseluruhan lebih banyak bersifat kuantitatif dan bukan kualitatif.
Makna “perbedaan” dan “perbedaan individual” menurut Lindgren (1980) menyangkut variasi yang terjadi, baik variasi pada aspek fisik maupun psikologis.
Adapun bidang-bidang dari perbedaannya yakni:
1. Perbedaan kognitif
Kemampuan kognitif merupakan kemampuan yang berkaitan dengan penguasaan ilmu pengetahuan dan tehnologi. Setiap orang memiliki persepsi tentang hasil pengamatan atau penyerapan atas suatu obyek. Berarti ia menguasai segala sesuatu yang diketahui, dalam arti pada dirinya terbentuk suatu persepsi, dan pengetahuan itu diorganisasikan secara sistematik untuk menjadi miliknya.
2.Perbedaan kecakapan bahasa
Bahasa merupakan salah satu kemampuan individu yang sangat penting dalam kehidupan. Kemampuan tiap individu dalam berbahasa berbeda-beda. Kemampuan berbahasa merupakan kemampuan seseorang untuk menyatakan buah pikirannya dalam bentuk ungkapan kata dan kalimat yang penuh makna, logis dan sistematis. Kemampuan berbaha sangat dipengaruhi oleh faktor kecerdasan dan faktor lingkungan serta faktor fisik (organ bicara).
3. Perbedaan kecakapan motorik
Kecakapan motorik atau kemampuan psiko-motorik merupakan kemampuan untuk melakukan koordinasi gerakan syarat motorik yang dilakukan oleh syaraf pusat untuk melakukan kegiatan.
4. Perbedaan Latar Belakang
Perbedaaan latar belakang dan pengalaman mereka masing-masing dapat memperlancar atau menghambat prestasinya, terlepas dari potensi individu untuk menguasai bahan.
5. Perbedaan bakat
Bakat merupakan kemampuan khusus yang dibawa sejak lahir. Kemampuan tersebut akan berkembang dengan baik apabila mendapatkan rangsangan dan pemupukan secara tepat sebaliknya bakat tidak berkembang sama, manakala lingkungan tidak memberi kesempatan untuk berkembang, dalam arti tidak ada rangsangan dan pemupukan yang menyentuhnya.
6. Perbedaan kesiapan belajar
Perbedaan latar belakang, yang mliputi perbedaan sisio-ekonomi sosio cultural, amat penting artinya bagi perkembangan anak. Akibatnya anak-anak pada umur yang sama tidak selalu berada pada tingkat kesiapan yang sama dalam menerima pengaruh dari luar yang lebih luas.


PENUTUP

Kesimpulan
Setiap individu memiliki ciri dan sifat atau karakteristik bawaan (heredity) dan karakteristik yang diperoleh dari pengaruh lingkungan. Karakteristik bawaan merupakan karakteristik keturunan yang dimiliki sejak lahir, baik yang menyangkut faktor biologis maupun faktor sosial psikologis. Natur dan nature merupakan istilah yang biasa digunakan untuk menjelaskan karakteristik-karakteristik individu dalam hal fisik, mental, dan emosional pada setiap tingkat perkembangan. Seorang bayi yang baru lahir merupakan hasil dari dua garis keluarga, yaitu garis keturunan ayah dan garis keturunan ibu. Sejak terjadinya pembuahan atau konsepsi kehidupan yang baru, maka secara berkesinambungan dipengaruhi oleh bermacam-macam faktor lingkungan yang merangsang.



DAFTAR PUSTAKA

Engel, J F; Roger D B; Paul, W M. 1995. Perilaku konsumen jilid I. Jakarta : Binarupa Aksara.
http://edukasi.kompasiana.com


Kamis, 10 Maret 2011

TEORI BELAJAR

A. Teori Belajar Behaviorisme
Menurut teori behaviorime bahwa belajar terjadi bila perubahan dalam bentuk tingkah laku dapat diamati, bila kebiasaan berperilaku terbentuk karena pengaruh sesuatu atau karena pengaruh peristiwa-peristiwa yang terjadi di lingkungan sekitar. Teori behaviorisme berpandangan bahwa belajar terjadi melalui operant conditioning.


Jika seseorang menunjukkan perilaku belajar yang baik akan mendapatkan hadiah dan kepuasan. Peserta didik yang telah mendapatkan hadiah sebagai penguatan akan semakin meningkatkan kualitas perilaku belajarnya. Sebaliknya, jika peserta didik menunjukkan perilaku belajar yang tidak baik akan mendapatkan hukuman dari guru atau orangtua dengan sasaran agar peserta didik dapat merubah perilaku belajarnya yang tidak baik tersebut.
Penguatan atau reinforcement yang diberikan kepada peserta didik terdiri atas dua macam, yaitu penguatan positif dan negatif. Baik penguatan positif maupun penguatan negatif, keduanya dapat meningkatkan respon dari peserta didik. Penguatan positif ialah stimulus yang bila ditambahkan dalam suatu situasi akan memperkuat individu dalam memberikan respon. Sedangkan penguatan negatif adalah suatu stimulus yang bila dipindahkan dari suatu situasi memperkuat kemungkinan terjadinya respon. Penguatan negative tidak sama dengan hukuman. Penguatan negative memberikan stimulus tingkah laku, sedangkan hukuman dirancang untuk menghentikan perilaku.
Ada dua penerapan penting teori behaviorisme dari Skinner dalam dunia pendidikan, yaitu: (1) modifikasi perilaku yang menggunakan prinsip-prinsip teori behaviorisme dan penerapannya untuk mengubah perilaku anak dengan cara yang sangat spesifik dan menggunakan sistem hadiah dan (2) pengajaran yang terprogram memiliki dua acuan, yaitu (a) cara umum untuk merancang dan menyajikan pengajaran dan (b) suatu produk tertentu (seperti program televisi, mesin pengajaran, naskah, dan slide tape) merupakan produk pemrograman pengajaran yang disajikan dalam satuan-satuan kecil disertai umpan balik segera setelah setiap satuan dipelajari (Moeslichatoen, 1989:11).

B. Teori Psikologi Kognitif
Bruner sebagai ahli teori belajar psikologi kognitif memandang proses belajar itu sebagai tiga proses yang berlangsung secara serempak, yaitu (1) proses perolehan informasi baru, (2) proses transformasi pengetahuan, dan (3) proses pengecekan ketepatan dan memadainya pengetahuan tersebut. Informasi baru dapat merupakan penyempurnaan pengetahuan terdahulu atau semacam kekuatan yang berpengaruh kepada pengetahuan terdahulu seseorang. Misalnya seseorang mempelajari sistem sirkulasi darah secara rinci setelah kurang jelas mempelajari tentang sirkulasi darah tersebut.
Dalam transformasi pengetahuan, orang menggunakan pengetahuan untuk menyesuaikan dengan tugas-tugas (masalah) baru yang dihadapi. Jadi transformasi memungkinkan kita dapat menggunakan informasi di luar jangkauan informasi itu dengan cara ekstrapolasi (membuat estimasi berdasarkan informasi itu) atau dengan interpolasi (untuk mempergunakan informasi) atau mengubah informasi ke dalam bentuk lain (Moeslichatoen, 1989:12).
Bruner memandang belajar sebagai "instrumental conceptualisme" yang mengandung makna adanya alam semesta sebagai realita hanya dalam pikiran manusia. Oleh karena itu, pikiran manusia dapat membangun gambaran mental yang sesuai dengan pikiran umum pada konsep yang bersifat khusus. Hal ini berbeda dengan realisme dan nominalisme. Pandangan Bruner tentang belajar berpusat kepada dua prinsip mengenai hakekat proses dalam memahami: (1) pengetahuan tentang dunianya didasarkan kepada bangunan model tentang kenyataan yang dimilikinya dan (2) model-model itu semula diadopsi dari budaya
seseorang kemudian model itu diadaptasi penggunaannya secara perseorangan (Moeslichatoen, 1989:13).
Semakin bertambah dewasa kemampuan kognitif seseorang, maka semakin bebas seseorang memberikan respon terhadap stimulus yang dihadapi. Perkembangan itu banyak tergantung kepada peristiwa internalisasi seseorang ke dalam sistem penyimpanan yang sesuai dengan aspek¬-aspek lingkungan sebagai masukan.
Teori belajar psikologi kognitif menfokuskan perhatiannya kepada bagaimana dapat mengembangkan fungsi kognitif individu agar mereka dapat belajar dengan maksimal. Faktor kognitif bagi teori belajar kognitif merupakan faktor pertama dan utama yang perlu dikembangkan oleh para guru dalam membelajarkan peserta didik, karena kemampuan belajar peserta didik sangat dipengaruhi oleh sejauh mana fungsi kognitif peserta didik dapat berkembang secara maksimal dan optimal melalui sentuhan proses pendidikan.
Peranan guru menurut teori belajar psikologi kognitif ialah bagaimana dapat mengembangkan potensi kognitif yang ada pada setiap peserta didik. Jika potensi kognitif yang ada pada setiap peserta didik telah dapat berfungsi dan menjadi aktual oleh proses pendidikan di sekolah, maka peserta akan mengetahui dan memahami serta menguasai materi pelajaran yang dipelajari di sekolah melalui proses belajar mengajar di kelas.
Oleh karena itu, para ahli teori belajar psikologi kognitif berkesimpulan bahwa salah satu faktor utama yang mempengaruhi keberhasilan proses pembelajaran di kelas ialah faktor kognitif yang dimiliki oleh peserta didik. Faktor kognitif merupakan jendela bagi masuknya berbagai pengetahuan yang diperoleh peserta didik melalui kegiatan belajar mandiri maupun kegiatan belajar secara kelompok.
Pengetahuan tentang kognitif peserta didik perlu dikaji secara mendalam oleh para calon guru dan para guru demi untuk menyukseskan proses pembelajaran di kelas. Tanpa pengetahuan tentang kognitif peserta didik guru akan mengalami kesulitan dalam membelajarkan peserta didik di kelas yang pada akhirnya mempengaruhi rendahnya kualitas proses pendidikan yang dilakukan oleh guru di kelas melalui proses belajar mengajar antara guru dengan peserta didik.



C. Teori Belajar Humanisme
Ahli humanisme yang diwakili oleh Carl R. Rogers kurang menaruh perhatian kepada mekanisme proses belajar maupun emosional peserta didik. Oleh karena itu, menurut teori belajar humanisme bahwa motivasi belajar harus bersumber pada diri peserta didik (Morris, 1982).
Rogers (Morris, 1982) membedakan dua ciri belajar, yaitu (1) belajar yang bermakna dan (2) belajar yang tidak bermakna. Belajar yang bermakna terjadi jika dalam proses pembelajaran melibatkan aspek pikiran dan perasaan peserta didik, dan belajar yang tidak bermakna terjadi jika dalam proses pembelajaran melibatkan aspek pikiran, akan tetapi tidak melibatkan aspek perasaan peserta didik.
Roger (Morris, 1982) sebagai ahli dari teori belajar humanisme mengemukakan beberapa prinsip belajar yang penting, yaitu: (1) manusia itu memiliki keinginan alamiah untuk belajar, memiliki rasa ingin tahu alamiah terhadap dunianya, dan keinginan yang mendalam untuk mengeksplorasi dan asimilasi pengalaman baru, (2) belajar akan lebih cepat lebih bermaka bila akan cepat dan lebih bermakna bila bahan yang dipelajari relevan dengan kebutuhan siswa, (3) belajar dapat ditingkatkan dengan mengurangi ancaman dari luar, (4) belajar secara partisipatif jauh lebih efektif daripada belajar secara pasif dan orang belajar lebih banyak bila belajar atas pengarahan diri sendiri, (5) belajar atas prakarsa sendiri yang melibatkan keseluruhan pribadi, pikiran maupun perasaan akan lebih baik dan tahan lama, dan (6) kebebasan, kreativitas, dan kepercayaan diri dalam belajar dapat ditingkatkan dengan evaluasi diri sendiri dan evaluasi dari orang lain tidak begitu penting.
Bagaimana proses belajar dapat terjadi menurut teori belajar humanisme?. Orang belajar karena ingin mengetahui dunianya. Individu memilih sesuatu untuk dipelajari, mengusahakan proses belajar dengan caranya sendiri, dan menilainya sendiri tentang apakah proses belajarnya berhasil.
Menurut Roger, peranan guru dalam kegiatan belajar siswa menurut pandangan teori humanisme adalah sebagai fasilitator yang berperan aktif dalam: (1) membantu menciptakan iklim kelas yang kondusif agar siswa bersikap positif terhadap belajar, (2) membantu siswa untuk memperjelas tujuan belajarnya dan memberikan kebebasan kepada siswa untuk belajar, (3) membantu siswa untuk memanfaatkan dorongan dan cita-cita mereka sebagai kekuatan pendorong belajar, (4) menyediakan berbagai sumber belajar kepada siswa, dan (5) menerima pertanyaan dan pendapat, serta perasaan dari berbagai siswa sebagaimana adanya (Morris, 1982).

D. Teori Belajar Sosial
Teori belajar sosial ini dikembangkan oleh Bandura yang merupakan perluasan dari teori belajar perilaku yang tradisional. Teori belajar sosial ini menekankan bahwa lingkungan-lingkungan yang dihadapkan kepada seseorang tidak random, lingkungan-lingkungan itu kerap kali dipilih dan diubah oleh orang itu melalui perilakunya. Suatu perspektif belajar sosial menganalisis hubungan kontinyu antara variabel-variabel lingkungan, ciri-ciri pribadi, dan perilaku terbuka dan tertutup seseorang. Perpektif-perspektif ini menyediakan interpretasi-interpretasi tentang bagaimana terjadi belajar sosial dan bagaimana kita mengatur perilaku kita sendiri (Dahar, 1992:28). Konsep-konsep utama dari teori belajar sosial ialah sebagai berikut:
1. Pemodelan (Modelling)
Menurut teori belajar sosial tentang modeling, yaitu bahwa peserta didik atau individu melakukan aktivitas belajar dengan cara meniru perilaku orang lain, dan pengalaman vicarious, yaitu belajar dari kegagalan dan keberhasilan orang lain. Bandura merasa bahwa sebagian besar belajar yang dialami oleh manusia, tidak dibentuk dari konsekuensi-konsekuensi melainkan dibentuk atau belajar dari suatu model. (Dahar, 1992:28). Sebagai contoh guru olah raga mencontohkan kepada siswa tentang cara main sepak bola yang baik, maka siswa menirunya.

2. Fase Belajar
Menurut Bandura (Dahar, 1992:28) ada empat fase belajar dari model, yaitu fase perhatian, fase retensi, fase reproduksi, fase motivasi lalu muncul dalam bentuk penampilan. Pada fase perhatian dalam belajar observational ialah memberikan perhatian kepada suatu model. Pada umumnya siswa memberikan perhatian kepada model-model yang menarik, berhasil, menimbulkan minat, dan popular. Itulah sebabnya banyak siswa-siswa remaja dengan mudah dan cepat meniru model-model pakaian trendi karena menarik perhatian, sekalipun model pakaian tersebut mengabaikan aspek normatif dan etika dalam berbusana.
Pada fase retensi siswa dilatih agar dapat tetap mengingat berbagai hal yang telah dipelajari melalui proses pengamatan di lapangan. Hanya dengan mengingat berbagai hal yang telah diamati oleh pancaindera siswa, maka siswa tersebut akan dapat belajar dengan baik, sehingga dapat memperoleh hasil belajar yang baik. Pada fase reproduksi, siswa diharapkan dapat mengingat kembali pesan dan kesan dari berbagai materi atau bahan pelajaran yang dipelajari melalui pengamatan. Sedangkan pada fase motivasi, yaitu bagaimana para siswa dengan melalui fase perhatian, fase retensi, dan fase reproduksi, mereka termotivasi untuk aktif melakukan proses belajar melalui pengamatan dan akan diwujudkannya dalam penampilan perilaku yang dapat diamati oleh guru di kelas. Oleh karena itu, teori belajar sosial lebih menekankan proses belajar melalui peniruan model yang diamati melalui interaksi belajar secara sosial di lingkungan sosial.


 http://www.contohmakalah.co.cc/2010/06/teori-teori-belajar-dalam-pendidikan.html

Senin, 17 Januari 2011

Agresi dan Kekerasan dalam Sepak Bola



PENDAHULUAN


Sepakbola di Indonesia beberapa tahun terakhir ini mengalami kemunduran, terutama dalam regenerasi pemain muda ditambah fasilitas penunjang dalam sepakbola tidak mendukung, ini berdampak pada menurunnya minat penonton untuk datang ke stadion. Sepakbola sebenarnya cabang olahraga yang paling banyak digemari masyarakat, akan tetapi sepakbola Indonesia sering terjadi agresi, baik terhadap lawan maupun dengan tim sendiri. Sementara kegiatannya usaha-usaha untuk memajukan olahraga sepakbola dewasa ini, terlihat pula gejala yang cukup memprihatinkan dalam dunia persepakbolaan nasional kita, yaitu adanya perkelahian dalam berbagai pertandingan. Tidak hanya perkelahian di antara sesama pemain, tetapi juga peristiwa pemukulan terhadap wasit oleh para pemain. Tindakan kekerasan berkembang di dalam berbagai pertandingan, baik tingkat nasional maupun internasional. Keadaan tersebut cukup mencemaskan, mengingat bahwa olahraga sepakbola merupakan cabang olahraga yang popular dan paling banyak digemari oleh masyarakat. Bila dihubungkan dengan usaha memasyarakatkan olahraga, maka dengan adanya perkelahian-perkelahian ini dapat diperkirakan timbulnya akibat-akibat yang kurang baik bagi masyarakat itu sendiri.

Suatu hal yang sangat memprihatinkan ialah bahwa tindakan kekerasan dalam pertandingan sepakbola tidak hanya dilakukan pemain tertentu saja, tetapi oleh kebanyakan pemain. Berbagai bentuk kekerasan dalam persepakbolaan Indonesia dapat dikategorikan ke dalam perilaku agresif. Agresi adalah perilaku fisik atau lisan yang disengaja dengan maksud untuk menyakiti atau merugikan orang lain (Sarwono, 1999). Agresi sendiri terdiri dari dua jenis yaitu hostile aggression dan instrumental aggression. Hostile aggression adalah lingkungan kemarahan dan ditandai dengan emosi yang tinggi, sedangkan instrumental aggression adalah tindakan yang tidak disertai emosi, bahkan antara pelaku dan korban kadang-kadang tidak ada hubungan pribadi (Sarwono, 1999) Berdasarkan fenomena tersebut penulis ingin meneliti bagaimana perilaku agresif pemain sepakbola dan faktor-faktor yang mempengaruhinya. Subjek iv penelitian ini ada dua orang yang terdiri satu pemain sepakbola, sebagai subjek penelitian dan satu orang lagi yaitu significant other. Pendekatan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif, dimana didalamnya digunakan metode obsevasi dan wawancara. Observasi yang dilakukan yaitu pada saat pertandingan sepakbola, dimana subjek sedang bertanding. Dan wawancara berlangsung di tempat yang disepakati oleh subjek dan penulis, dimana sebelumnya dibuat pedoman observasi dan wawancara terlebih dahulu oleh penulis. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan penulis, diketahui bahwa pada subjek yang diteliti muncul perilaku agresif pada saat pertandingan sepakbola. Hal ini dikarenakan pendidikan subjek yang tidak terlalu tinggi, serta faktor yang mempengaruhi agresi subjek dalam bertanding dapat disimpulkan bahwa kondisi lingkungan, frustrasi, dan karakter kepribadian yang dapat mempengaruhi subjek bertindak agresif, sehingga tidak memikirkan dampak yang diakibatkan dirinya sendiri dan orang lain dimasa depan.

Download Abstraksi http://library.gunadarma.ac.id/abstraction_10501040-skripsi_fpsi.pdf





PEMBAHASAN

Pemain yang agresif sangat diperlukan untuk dapat memenangkan pertandingan. Seperti dalam sepakbola, bela diri, dan sebagainya. Tetapi sifat-sifat tersebut, apabila tidak terkendali, justru dapat menjerumuskan dan mengarah pada tindakan-tindakan berbahaya, misalnya: melukai lawan, melanggar peraturan, serta mengabaikan sportivitas.

Menurut John Dollar, dkk. (1970) “tindakan agresif selalu merupakan konsekuensi lebih lanjut dari gejala frustrasi.” Dengan kata lain, frustrasi dapat mendorong timbulnya tingkah laku agresif.

Worchel dan Cooper membedakan dua tipe kepribadian yaitu (1) yang agresivitasnya kurang terkontrol dan (2) yang agresivitasnya selalu terkontrol. Tipe kepribadian yang agresivitasnya kurang terkontrol menunjukan kurangnya larangan terhadap pengungkapan tingkah laku agresif dan kecenderungan untuk mengadakan respons terhadap frustasi dengan tindakan yang agresif. Tipe kepribadian yang agresivitasnya selalu dikontrol dengan ketat, menunjukan adanya kontrol yang ekstrim kuat tehadap pengugkapan agresivitas dalam berbagai kondisi.

Orang yang agresivitasnya kurang terkontrol kemungkinan lebih besar melakukan tindakan kriminal kekerasan, karena ia tidak bimbang melakukan kekerasan pada waktu marah.

Teori-teori agresivitas

1. Teori keseimbangan

Teori keseimbangan atau “balance theory” mula-mula dikembangkan Fritz heider (1958), membahas hubungan interpersonal yang didasar-kan atas rasa senang atau tidak senang. Rasa senang atau tertarik dapat berupa merasa tergabung, rasa memiliki, merasa adanya kesamaan, dan sebagainya. Sedangkan rasa tidak senag atau rasa bertentangan dapat berupa perasaan berbeda, tidak memiliki, merusak, dan sebagainya.

Ketidak seimbangan atau “imbalanced relationship” dapat terjadi apabila dua orang berbeda pendapat atau kesenangan mengenai suatu obyek tertentu. Rasa senang atau tidak senang juga mengandung penilaian terhadap orang lain atau terhadap obyek tertentu ; dalam kenyataannya rasa senang dan tidak senang dapat terjadi dalam berbagai tingkat.

Tindakan agresif akan lebih banyak terjadi pada situasi hubungan yang tidak seimbang. Atlet pada umumnya terikat pada beberapa kelompok sosial, seperti keluarga, sekolah, teman berlatih, teman kumpul-kumpul, dan sebagainya. Tindakan agresif seorang atlet akan lebih tertuju pada orang yang tidak disenangi. Namun dalam hal tertentu dimana atlet ridak puas pada tindakan seseorang yang tidak disenangi, tetapi ia tidak berani atau merasa salah kalau menyerangnya, maka tindakan agresif akan dialihkan pada orang lain.

Prinsip-prinsip dasar teori keseimbangan sering sekali diterapkan untuk menganalisis sikap-sikap individu. Sikap-sikap individu biasanya juga menunjukan penilaian positif atau negatif terhadap obyek tertentu ataupun orang tersebut. Dalam hubungan dengan pembinaan tim, sikap-sikap negatif terhadap sesama anggota tim harus selalu dimonitor, lebih-lebih apabila ada gejala frustasi yang menjurus pada tindakan-tindakan agresif.

2. Teori insting

Teori ini didasarkan pada pendekatan individual, yang menjelaskan bahwa tindakan agresif disebabkan oleh dorongan dari dalam diri individu yang bersangkutan. Manusia tiadak dapat hidup dalam keadaan vakum, tiongkahlakunya bukan hanya merupakan fungsi sifat-sifat kepribadian individu tetapi juga situasi sekitar yang tidak boleh diabaikan.

3. Teori sosiolearning (teori belajar lingkungan)

Bahwa tindakan-tindakan agresif itu dapat dipelajari dari lingkungan dimana individu itu berada. Anak-anak belajar mengenai kapan harus menyerang atau bertindak agresif, bagaiman bertindak agresif, dan terhadap siapa bertindak agresif. Proses belajar ini didapat dari mengamati orang tua mereka, datang dari kelompok sebaya dimana ia tergabung, dan dari media massa yang memberikan gambaran tentang tindakan agresif dan kekerasan.

Jenis-jenis Agresvitas

1. Hostile agresion (rasa permusuhan).

Merupakan tindakan agresive yang disertai rasa permusuhan dengan tujuan utamanya adalah, melukai orang lain, niat melukai orang lain tersebut dilakukan dengan perasaan marah. Hal ini dapat diberikan contoh, misalnya, penyerang sepakbola dengan sengaja mengambil kaki lawannya karena usaha untuk membobolkan gawang selalu digagalkan pemain tersebut.

2. Instrumental agresion

Merupakan tindakan agresif yang tujuan utamanya adalah memenangkan pertandingan, tanpa melukai lawan. Niat melawan secara agresif tidak disertai rasa marah. Tindakan agresif instrumental tidak didak disebabkan oleh frustasi. Tindakan agresif yang bukan karena frustasi diantaranya dapat berupa gejala :

a. tindakan agresif instrumental ; tindakan agresif yang tidak disertai rasa marah.

b. tindakan agresif karena meniru ; misalnya tindakan agresif karena meniru tokoh gengster yang suka menyerang dan melukai orang lain.

c. tindakan agresif atas dasar perintah ; sering terjadi dalam olahraga beladiri misalnya karena inisiatif menyerang akan mendapat penilaian lebih dari wasit.

d. tindaka agresif dalam hubungannya dengan peran sosial ; dapat dilihat pada tindakan agresif yang dilakukan penjaga keamanan yang harus bertindak tegas, jika perlu dengan agak keras.

e. tindakan agresif karena pengaruh kelompok ; pengaruh penonton atau tim juga dapat merangsang dan menimbulkan gejala agresif. Tindakan agresif pemain karena pengaruh penonton sering terjadi.

Pengendalian Agresifitas dalam Olahraga

Sifat agresif hanyalah merupakan salah satu sifat dari individu. Kecenderungan sifat agresif pada pemain menjadi tindakan yang positif dan dibutuhkan untuk memenangkan pertandingan atau bisa sebaliknya bisa merusak dan menjadi tindakan deskruktif, sangat tegantung dari sifat-sifat dan kepribadian lainnya yang ada pada indifidu tersebut.

Sifat agresif yang dimiliki pemain yang juga memiliki kestabilan emosional, disiplin, rasa tanggung jawab yang besar, tidak menjadi masalah dalam pengarahannya. Pelatih dapat menyiapkan atlet tersebut untuk bermain agresif, dengan tidak perlu khawatir bahwa ia akan melukai lawan dan bertindak deskruktif, dalam upaya untuk mencapai tujuan atau memenangkan pertandingan. Dengan memberikan dorongan, pemberian stimulus yang positif, penghargaan, dan sebagainya. Atlet akan bermain agresif dengan tidak mengalami frustasi.

Bertitik tolak dari “Social learning theory” yaitu pemain akan meniru dan belajar dari pengalaman pemain lainnya, maka pelatih harus menyiapkan pemain dengan petunjuk dan langkah praktis sebagai berikut:

a. Anjuran untuk bermain agresif harus terarah, kapan, bagaimana, dan bagaimana cara yang tepat agar tidak menimbulkan hal-hal negatif dan melukai lawan.

b. Bermain agresif harus disertai peningkatan penguasaan diri, agar dapat selalu mengontrol diri sendiri.

c. Bermain agresif harus disertai disiplin dan rasa tanggung jawab, yaitu selalu mematuhi peraturan dan tunduk pada keputusan wasit serta mempertanggungjawabkan tindakannya.

d. Perlu adanya pemberian penghargaan bagi mereka yang bertindak agresif tetapi tidak melukai lawan, memelihara sportifitas, dan sebaliknya berikan hukuman apabila berusaha melukai lawan atau tindakan tercela dan melanggar peraturan.

Dalam upaya mengendalikan tindak kekerasan atau agresivitas yang menyimpang, dikemukakan Richard H. Cok sebagai berikut:

a. Atlet-atlet muda harus sudah diberi pengetahuan tentang contoh perilaku non agresif, penguasaan diri, dan penampilan yang benar.

b. Atlet yang terlibat tindakan agresif harus dihukum. Harus disadarkan bahwa tindakan agresif dengan melukai lawanadalah tindakan yang tidak dibenarkan.

c. Pelatih yang memberi kemungkinan para atlet terlibat agresif dengan kekerasan harus diteliti dan harus dipecat dari tugasnya sebagai pelatih.

d. Pengaruh dari luar memungkinkan terjadinya tindakan agresif dengan kekerasan dilapangan pertandingan harus dihindarkan

e. Para pelatih dan wasit didorong atau dianjurkan untuk menghindari lokakarya-lokakarya yang membahas tindakan agresif dan kekerasan.

f. Disamping hukuman terhadap tindakan agresif dengan kekerasan atlet harus didorong secara positif meningkatkan kemampuan bertindak tenang menghadapi situasi-situasi emosional.

g. Penguasaan emosi menghadapi tindakan agresif dengan kekerasan harus dilatih secara praktis antara lain melalui latihan mental.

http://backrojez.blogspot.com/2010/06/pengaruh-kondisi-psikologis-dan-status.html












PENUTUP


A. Kesimpulan

Pemain yang agresif sangat diperlukan untuk dapat memenangkan pertandingan. Seperti dalam sepakbola, bela diri, dan sebagainya. Tetapi sifat-sifat tersebut, apabila tidak terkendali, justru dapat menjerumuskan dan mengarah pada tindakan-tindakan berbahaya, Dalam upaya mengendalikan tindak kekerasan atau agresivitas yang menyimpang, sebagai berikut :

· Atlet-atlet muda harus sudah diberi pengetahuan tentang contoh perilaku non agresif, penguasaan diri, dan penampilan yang benar.

· Atlet yang terlibat tindakan agresif harus dihukum. Harus disadarkan bahwa tindakan agresif dengan melukai lawanadalah tindakan yang tidak dibenarkan.

· Pelatih yang memberi kemungkinan para atlet terlibat agresif dengan kekerasan harus diteliti dan harus dipecat dari tugasnya sebagai pelatih.

· Pengaruh dari luar memungkinkan terjadinya tindakan agresif dengan kekerasan dilapangan pertandingan harus dihindarkan

· Para pelatih dan wasit didorong atau dianjurkan untuk menghindari lokakarya-lokakarya yang membahas tindakan agresif dan kekerasan.

· Disamping hukuman terhadap tindakan agresif dengan kekerasan atlet harus didorong secara positif meningkatkan kemampuan bertindak tenang menghadapi situasi-situasi emosional.

· Penguasaan emosi menghadapi tindakan agresif dengan kekerasan harus dilatih secara praktis antara lain melalui latihan mental.


B. Saran

Semoga makalah ini dapat bermanfaat dan menjadi bahan pertimbangan para ilmuan olahrga untuk lebih meningkatkan kemampuan profesionalnya dalam melaksanakan kinerjanya agar dapat menciptakan atlit-atlit yang profesional dan berpotensi. Dan dalam integritas tertentu ilmuan olahraga harus paham bagaimana proses yang baik agar menghasilkan penampilan atlet seperti yang diinginkan.